Minggu, 29 Maret 2020
Rabu, 18 Maret 2020
POLA MAKAN TERATUR
Secara umum, seseorang dianjurkan untuk mengonsumsi
makanan di 3 kali waktu makan ditambah 2 kali waktu selingan
Kapan saja waktunya?
Sarapan merupakan bagian penting dari konsumsi makanan
sehari, karena menyediakan energi dan zat gizi untuk memulai aktivitas.
- S
E L I N G A N P A G I ( PUKUL 1 0 . 0 0 )
Selingan pagi dilakukan untuk menghindari makan
berlebihan di waktu siang. Makanlah cemilan yang sehat seperti buah-buahan.
- M
A K A N S I A N G ( PUKUL 1 2 . 0 0 - 1 3 . 0 0
)
Pada waktu siang, sistem pencernaan berada dalam
kondisi paling aktif. Makanlah makanan lengkap kaya gizi (cukup energi,
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral).
- S
E L I N G A N S O R E ( P U K U L 1 5 . 0 0 - 1 6 . 0 0 )
cemilan sore dilakukan untuk menghindari makan
berlebihan di waktu malam. Secangkir teh dan beberapa keping biskuit mungkin
baik untuk menemani sore mu, terlebih karena efeknya yang merilekskan.
- M A K A N M A L A M ( P U K U L 1 9 . 0 0 - 2 0 . 0 0 ) makan malam yang terlalu banyak ditambah pola tidur yang ngga sehat bisa meningkatkan resiko obesitas dan sindrom metabolic
Apa akibatnya kalau saya sering makan
tidak teratur?
Berdasarkan sebuah penelitian diketahui bahwa makan
tidak teratur dapat menyebabkan:
Makan tidak teratur dapat menurunkan “efek termal’
dari makanan yang Anda konsumsi. Efek termal adalah energi yang Anda
gunakan untuk mencerna dan menyerap makanan. Jika Anda makan tidak teratur,
ini dapat mengganggu sistem pencernaan Anda. Hal tersebut terjadi karena
sistem pencernaan Anda merupakan “mesin” pengolahan makanan yang digunakan
terus menerus selama 8-10 jam. Sehingga, “mesin” tersebut perlu mendapatkan
suplai makanan secara teratur.
2. Perubahan hormon
Makan yang tidak teratur akan membuat hormon di dalam
tubuh Anda menjadi tidak seimbang, karena di saat Anda melewatkan makan
pagi/siang/malam, hormon kortisol akan meningkat dan dapat menyebabkan
peningkatan pada berat badan.
3. Kenaikan berat badan
Jika Anda makan tidak teratur, ini akan
meningkatkan risiko terjadinya obesitas. Obesitas
adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi di dalam tubuh sehingga membuat
berat badan berada di luar batas tubuh ideal. Studi yang dilakukan Northwestern
University telah menemukan bahwa makan di waktu yang tidak teratur
dapat mempengaruhi berat badan atau menyebabkan obesitas. Jam ritme sikardian
mengatur tentang sinyal lapar dan kenyang yang dapat menjaga berat badan Anda,
namun, makan di waktu yang tidak teratur akan membuat jam biologis tersebut
terganggu dalam menjalankan fungsinya.
4. Peningkatan kadar gula dalam darah
Makan tidak teratur dapat mempengaruhi peningkatan
kadar glukosa dalam tubuh. Hal tersebut terjadi karena makan tidak teratur
dapat menyebabkan resistensi insulin pada tubuh dan meningkatkan kadar
lemak saat puasa; kedua hal tersebut merupakan faktor-faktor risiko terjadinya
penyakit kardiovaskular.
5. Kram perut
Hal yang sering kali terjadi saat terbiasa makan tidak
teratur adalah kram pada perut. Biasanya, eram perut terjadi akibat penyakit
lambung, refluks asam lambung, tukak lambung, infeksi lambung, dll.
Bahkan, di saat Anda melewatkan waktu makan atau membiarkan perut Anda kosong,
lalu makan setelah perut kosong dalam waktu yang lama, ini dapat membuat
sensasi kembung dan kelebihan gas yang disertai dengan rasa nyeri perut.
6. Terbiasa melewatkan waktu makan
Ternyata, makan tidak teratur dapat menjadi sebuah
kebiasaan jika dilakukan berulang-ulang. Oleh karena itu, Anda sangat tidak
dianjurkan untuk melewati makan karena melewatkan makan tidak baik untuk
kesehatan Anda.
Salah satu cara untuk menjaga waktu makan adalah
dengan membuat perencanaan dan disesuaikan dengan aturan pedoman gizi seimbang;
perencanaan dilakukan agar Anda tidak terlalu banyak mengkonsumsi lemak jenuh,
gula tambahan, garam, maupun kalori serta Anda dapat mempertimbangkan makanan
apa yang baik untuk Anda konsumsi.
Nama : Athiqa Fazilla
Nim : 1911211018
klik disini my video https://youtu.be/Dcuk254AQug
Nama : Athiqa Fazilla
Nim : 1911211018
klik disini my video https://youtu.be/Dcuk254AQug
Kamis, 05 Maret 2020
MENTAL HEALTH
Pengertian Kesehatan Mental
Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam
kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku
seseorang. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah
tangga, pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang. Jika kesehatan mental
terganggu, maka akan timbul gangguan mental atau penyakit mental. Gangguan
mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan
orang lain, membuat pilihan, dan dapat memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri.
Beberapa jenis gangguan mental yang umum ditemukan,
antara lain depresi, gangguan bipolar, kecemasan, gangguan stres pasca trauma
(PTSD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan psikosis. Beberapa penyakit
mental hanya terjadi pada jenis pengidap tertentu, seperti postpartum
depression hanya menyerang ibu setelah melahirkan.
Terdapat beberapa jenis
masalah kesehatan mental dan berikut ini adalah tiga jenis kondisi yang
paling umum terjadi.
Stres
Stres adalah keadaan ketika seseorang mengalami
tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.
Seseorang yang stres biasanya akan tampak gelisah,
cemas, dan mudah tersinggung. Stres juga dapat mengganggu konsentrasi,
mengurangi motivasi, dan pada kasus tertentu, memicu depresi.
Stres bukan saja dapat memengaruhi psikologi
penderitanya, tetapi juga dapat berdampak kepada cara bersikap dan kesehatan
fisik mereka.
Berikut ini adalah contoh dampak stres terhadap
perilaku seseorang:
- Menjadi
penyendiri dan enggan berinteraksi dengan orang lain.
- Enggan
makan atau makan secara berlebihan.
- Marah-marah,
dan terkadang kemaharan itu sulit dikendalikan.
- Menjadi
perokok atau merokok secara berlebihan.
- Mengonsumsi
minuman beralkohol secara berlebihan.
- Penyalahgunaan
obat-obatan narkotika.
Berikut ini adalah masalah kesehatan yang
dapat timbul akibat stres:
- Gangguan
tidur
- Lelah
- Sakit
kepala
- Sakit
perut
- Nyeri
dada
- Nyeri
atau tegang pada otot
- Penurunan
gairah seksual
- Obesitas
- Hipertensi
- Diabetes
- Gangguan
jantung
Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang
mengalami stres, sebagian di antaranya adalah masalah keuangan, hubungan
sosial, atau tuntutan di dalam pekerjaan. Untuk mengatasi stres, kunci utamanya
adalah mengidentifikasi akar permasalahan dan mencari solusinya.
Penanggulangan stres juga bisa dilakukan dengan
mengaplikasikan nasihat-nasihat yang disarankan dalam manajemen stres yang
baik, seperti:
- Belajar
menerima suatu masalah yang sulit diatasi atau hal-hal yang tidak dapat
diubah.
- Selalu
berpikir positif dan memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam
hidup ada hikmahnya.
- Meminta
saran dari orang terpercaya untuk mengatasi masalah yang sedang dialami.
- Belajar
mengendalikan diri dan selalu aktif dalam mencari solusi.
- Melakukan
aktivitas fisik, meditasi, atau teknik relaksasi guna meredakan ketegangan
emosi dan menjernihkan pikiran.
- Melakukan
hal-hal baru yang menantang dan lain dari biasanya guna meningkatkan rasa
percaya diri.
- Menyisihkan
waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.
- Melibatkan
diri dalam kegiatan-kegiatan sosial untuk membantu orang lain. Cara ini
dapat membuat seseorang lebih tabah dalam menghadapi masalah, terutama
jika bisa membantu seseorang yang memiliki masalah lebih berat dari yang
dialaminya.
- Menghindari
cara-cara negatif untuk meredakan stres, misalnya merokok, mengonsumsi
minuman beralkohol secara berlebihan, atau menggunakan narkoba.
- Bekerja
dengan mengedepankan kualitas bukan kuantitas, agar manajemen waktu lebih
baik dan hidup juga lebih seimbang.
Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah kondisi
psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan
dan sulit dikendalikan, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan
sehari-harinya.
Bagi sebagian orang normal, rasa cemas biasanya timbul
pada suatu kejadian tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi ujian di
sekolah atau wawancara kerja. Namun pada penderita gangguan kecemasan, rasa
cemas ini kerap timbul pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang mengalami
kondisi ini akan sulit merasa rileks dari waktu ke waktu.
Selain gelisah atau rasa takut yang berlebihan, gejala
psikologis lain yang bisa muncul pada penderita gangguan kecemasan adalah
berkurangnya rasa percaya diri, menjadi mudah marah, stres, sulit
berkonsentrasi, dan menjadi penyendiri.
Sementara itu, gejala fisik yang mungkin menyertai
masalah gangguan kecemasan antara lain:
- Sulit
tidur
- Badan
gemetar
- Mengeluarkan
keringat secara berlebihan
- Otot
menjadi tegang
- Jantung
berdebar
- Sesak
napas
- Lelah
- Sakit
perut atau kepala
- Pusing
- Mulut
terasa kering
- Kesemutan
Meski penyebab gangguan kecemasan belum diketahui
secara pasti, beberapa faktor diduga dapat memicu munculnya kondisi tersebut.
Di antaranya adalah trauma akibat intimidasi, pelecehan, dan kekerasan di
lingkungan luar ataupun keluarga.
Faktor risiko lainnya adalah stres berkepanjangan, gen
yang diwariskan dari orang tua, dan ketidakseimbangan hormon serotonin dan
noradrenalin di dalam otak yang berfungsi mengendalikan suasana hati. Gangguan
kecemasan juga dapat dipicu oleh penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan
terlarang.
Sebenarnya, gangguan kecemasan dapat diatasi tanpa
bantuan dokter melalui beberapa cara, seperti mengonsumsi makanan bergizi
tinggi, cukup tidur, mengurangi asupan kafein, minuman beralkohol, atau zat
penenang lainnya, tidak merokok, berola raga secara rutin, dan melakukan metode
relaksasi sederhana, seperti yoga atau meditasi.
Jika pengobatan mandiri tidak memberikan perubahan,
disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Penanganan dari dokter biasanya
meliputi pemberian obat-obatan antiansietas serta terapi kognitif.
Depresi
Depresi merupakan gangguan suasana hati yang
menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan
biasa yang umumnya berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada
depresi bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Selain memengaruhi perasaan atau emosi, depresi juga
dapat menyebabkan masalah fisik, mengubah cara berpikir, serta mengubah cara
berperilaku penderitanya. Tidak jarang penderita depresi sulit menjalani
aktivitas sehari-hari secara normal. Bahkan pada kasus tertentu, mereka bisa
menyakiti diri sendiri dan mencoba bunuh diri.
Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi seseorang
yang mengalami depresi:
- Kehilangan
ketertarikan atau motivasi untuk melakukan sesuatu.
- Terus-menerus
merasa sedih, bahkan terus-menerus menangis.
- Merasa
sangat bersalah dan khawatir berlebihan.
- Tidak
dapat menikmati hidup karena kehilangan rasa percaya diri.
- Sulit
membuat keputusan dan mudah tersinggung.
- Tidak
acuh terhadap orang lain.
- Memiliki
pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Berikut ini adalah dampak depresi terhadap kesehatan fisik yang
mungkin dapat terjadi:
- Gangguan
tidur dan badan terasa lemah.
- Berbicara
atau bergerak menjadi lebih lambat.
- Perubahan
siklus menstruasi pada wanita.
- Libido
turun dan muncul sembelit.
- Nafsu
makan turun atau meningkat secara drastis.
- Merasakan
sakit atau nyeri tanpa sebab.
Ada beragam hal yang dapat memicu terjadinya depresi,
mulai dari peristiwa dalam hidup yang menimbulkan stres, kehilangan orang yang
dicintai, merasa kesepian, hingga memiliki kepribadian yang rapuh terhadap
depresi.
Selain itu, depresi yang dialami seseorang juga bisa
disebabkan oleh penderitaan akibat penyakit parah dan berkepanjangan, seperti
kanker dan gangguan jantung, cedera parah di kepala, efek dari konsumsi minuman
beralkohol berlebihan dan obat-obatan terlarang, hingga akibat faktor genetik
dalam keluarga.
Dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter jika
merasakan gejala-gejala depresi selama lebih dari dua minggu dan tidak kunjung
mereda. Apalagi jika gejala depresi tersebut sampai mengganggu proses
pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial,
Penanganan depresi oleh dokter akan disesuaikan dengan
tingkat keparahan depresi yang diderita masing-masing pasien. Bentuk penanganan
bisa berupa terapi konsultasi, pemberian obat-obatan antidepresi, atau
kombinasi keduanya.
Gejala Kesehatan Mental
Gangguan mental atau penyakit mental dapat diawali
dengan beberapa gejala berikut ini, antara lain:
- Berteriak
atau berkelahi dengan keluarga dan teman-teman.
- Delusi,
paranoia, atau halusinasi.
- Kehilangan
kemampuan untuk berkonsentrasi.
- Ketakutan,
kekhawatiran, atau perasaan bersalah yang selalu menghantui.
- Ketidakmampuan
untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari.
- Marah
berlebihan dan rentan melakukan kekerasan.
- Memiliki
pengalaman dan kenangan buruk yang tidak dapat dilupakan.
- Memiliki
pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
- Menarik
diri dari orang-orang dan kegiatan sehari-hari.
- Mendengar
suara atau mempercayai sesuatu yang tidak benar.
- Mengalami
nyeri yang tidak dapat dijelaskan.
- Mengalami
perubahan suasana hati drastis yang menyebabkan masalah dalam hubungan
dengan orang lain.
- Merasa
bingung, pelupa, marah, tersinggung, cemas, kesal, khawatir, dan takut
yang tidak biasa.
- Merasa
sedih, tidak berarti, tidak berdaya, putus asa, atau tanpa harapan.
- Merokok,
minum alkohol lebih dari biasanya, atau bahkan menggunakan narkoba.
- Perubahan
drastis dalam kebiasaan makan, seperti makan terlalu banyak atau terlalu
sedikit.
- Perubahan
gairah seks.
- Rasa
lelah yang signifikan, energi menurun, atau mengalami masalah tidur.
- Tidak
dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti merawat anak atau pergi ke
sekolah atau tempat kerja.
- Tidak
mampu memahami situasi dan orang-orang.
Penyebab Kesehatan Mental
Beberapa penyebab umum dari gangguan mental, antara
lain:
- Cedera
kepala.
- Faktor
genetik atau terdapat riwayat pengidap gangguan mental dalam keluarga.
- Kekerasan
dalam rumah tangga atau pelecehan lainnya.
- Kekerasan
pada anak atau riwayat kekerasan pada masa kanak-kanak.
- Memiliki
kelainan senyawa kimia otak atau gangguan pada otak.
- Mengalami
diskriminasi dan stigma.
- Mengalami
kehilangan atau kematian seseorang yang sangat dekat.
- Mengalami
kerugian sosial, seperti masalah kemiskinan atau utang.
- Merawat
anggota keluarga atau teman yang sakit kronis.
- Pengangguran,
kehilangan pekerjaan, atau tunawisma.
- Pengaruh
zat racun, alkohol, atau obat-obatan yang dapat merusak otak.
- Stres
berat yang dialami dalam waktu yang lama.
- Terisolasi
secara sosial atau merasa kesepian.
- Tinggal
di lingkungan perumahan yang buruk.
- Trauma
signifikan, seperti pertempuran militer, kecelakaan serius, atau kejahatan
dan yang pernah dialami.
Faktor Risiko Kesehatan Mental
Beberapa faktor risiko gangguan mental, antara lain:
- Perempuan
memiliki risiko tinggi mengidap depresi dan kecemasan, sedangkan laki-laki
memiliki risiko mengidap ketergantungan zat dan antisosial.
- Perempuan
setelah melahirkan.
- Memiliki
masalah di masa kanak-kanak atau masalah gaya hidup.
- Memiliki
profesi yang memicu stres, seperti dokter dan pengusaha.
- Memiliki
riwayat anggota keluarga atau keluarga dengan penyakit mental.
- Memiliki
riwayat kelahiran dengan kelainan pada otak.
- Memiliki
riwayat penyakit mental sebelumnya.
- Mengalami
kegagalan dalam hidup, seperti sekolah atau kehidupan kerja.
- Menyalahgunakan
alkohol atau obat-obatan terlarang.
Diagnosis Kesehatan Mental
Dokter ahli jiwa atau psikiater akan mendiagnosis
suatu gangguan mental dengan diawali suatu wawancara medis dan wawancara psikiatri
lengkap mengenai riwayat perjalanan gejala pada pengidap serta riwayat penyakit
pada keluarga pengidap. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang
menyeluruh untuk mengeliminasi kemungkinan adanya penyakit lain.
Jika diperlukan, dokter
akan meminta untuk dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan fungsi
tiroid, skrining alkohol dan obat-obatan, serta CT scan untuk
mengetahui adanya kelainan pada otak pengidap. Jika kemungkinan adanya penyakit
lain sudah dieliminasi, dokter akan memberikan obat dan rencana terapi untuk
membantu mengelola emosi pengidap.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah
gangguan mental, antara lain:
- Melakukan
aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik.
- Membantu
orang lain dengan tulus.
- Memelihara
pikiran yang positif.
- Memiliki
kemampuan untuk mengatasi masalah.
- Mencari
bantuan profesional jika diperlukan.
- Menjaga
hubungan baik dengan orang lain.
- Menjaga
kecukupan tidur dan istirahat.
Pengobatan Kesehatan Mental
Beberapa pilihan pengobatan yang akan dilakukan dokter
dalam menangani gangguan mental, antara lain:
- Psikoterapi.
Psikoterapi merupakan terapi bicara yang memberikan media yang aman untuk
pengidap dalam mengungkapkan perasaan dan meminta saran. Psikiater akan
memberikan bantuan dengan membimbing pengidap dalam mengontrol perasaan.
Psikoterapi beserta perawatan dengan menggunakan obat-obatan merupakan
cara yang paling efektif untuk mengobati penyakit mental. Beberapa contoh
psikoterapi, antara lain cognitive behavioral therapy, exposure
therapy, dialectical behavior therapy, dan sebagainya.
- Obat-obatan.
Pemberian obat-obatan dalam mengobati penyakit mental umumnya bertujuan
untuk mengubah senyawa kimia otak di otak. Obat-obatan tersebut dapat
berupa golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), serotonin-norepinephrine
reuptake inhibitor (SNRIs), dan antidepresan trisiklik.
Obat-obatan ini umumnya dikombinasikan dengan psikoterapi untuk hasil
pengobatan yang lebih efektif.
- Rawat
inap. Rawat inap diperlukan jika pengidap membutuhkan pemantauan ketat
terhadap gejala-gejala penyakit yang dialaminya atau terdapat
kegawatdaruratan di bidang psikiatri, misalnya percobaan bunuh diri.
- Support
group. Support group umumnya
beranggotakan pengidap penyakit mental yang sejenis atau yang sudah dapat
mengendalikan emosinya dengan baik. Mereka berkumpul untuk berbagi
pengalaman dan membimbing satu sama lain menuju pemulihan.
- Stimulasi
otak. Stimulasi otak dapat berupa terapi elektrokonvulsif, stimulasi
magnetik transkranial, pengobatan eksperimental yang disebut stimulasi
otak dalam, dan stimulasi saraf vagus.
- Pengobatan
terhadap penyalahgunaan zat. Pengobatan ini dilakukan pada pengidap
penyakit mental yang disebabkan oleh ketergantungan akibat penyalahgunaan
zat terlarang.
- Membuat
rencana bagi diri sendiri, misalnya dengan mengatur gaya hidup dan
kebiasaan sehari-hari, untuk melawan penyakit mental. Rencana ini
bertujuan untuk memantau kesehatan, membantu proses pemulihan, dan
mengenali pemicu atau tanda-tanda peringatan penyakit.
klik disini https://www.halodoc.com/kesehatan/kesehatan-mental















